Senin, 28 Mei 2012

Thank you Mr....


Dalam hidup setiap orang, biasanya mereka selalu punya beberapa orang yang berpengaruh dalam hidupnya. Orang-orang yang telah menginspirasi, orang yang menularkan banyak pengetahuan, orang yang memberi  motivasi adalah mereka yang biasanya tak dapat terlupakan dan selalu membuat kita terus mengenangnya bahkan berhutang budi padanya. Inilah yang terjadi pada saya untuk Mr. Charlie. Secara tidak sadar dia adalah  salah satu orang yang membuat saya melihat sisi dunia lain dari kehidupan. Walaupun kehidupannya dan prinsipnya sangat bertolak belakang dengan apa yang pernah saya lihat dan jalani sebelumnya, tapi saya melihatnya menjalani hidup, menghargai hidup dan memperlakukan hidup dengan caranya sendiri.
Saya bertemu beliau pertama kali saat mengikuti pelajaran tambahan pada awal saya masuk kuliah. Ada 3 mata kuliah tambahan pada saat itu, yaitu bahasa Arab, Bahasa Inggris, dan retorika. Dia merupakan instruktur bahasa Inggris kami. Dia tentu saja mempunyai nama lengkap. Tapi beliau lebih senang dipanggil Mr. Charlie

Pengetahuan bahasa inggrisnya begitu dalam. Sebenarnya bukan  hanya ilmunya yang membuat saya terkesan, tapi caranya mentransfer ilmu dan usahanya yang keras untuk mencerdaskan kami membuat saya kagum. Padahal kami tidak membayar banyak untuk itu, tidak sebanding dengan perjuangannya dalam  mencerdaskan kami.

Dia tidak shalat juga tidak ke gereja. Entah apa agamanya, kami studentnya pernah menanyakan tapi katanya, dia belum percaya dengan tuhan. Whatever… kami hanya tahu kalau dia sangat bertanggung jawab dalam pekerjaanya, care dan tulus dalam mengajar kami.

Pernah suatu ketika dia marah besar pada kami. Mungkin kecewa atau mungkin kesal karena kami para anak bimbingannya tidak datang mengikuti pelajarannya. Saya akui hari itu saya tidak hadir karena hujan, padahal seharusnya itu tidak menjadi alasan, karena beliau pun datang ke kampus untuk mengajar les dengan keadaan berhujan-hujan. Beliau marah pada kami dan menunda pertemuan selanjutnya. Saya menyesal dan merasa bersalah pada saat itu.

Yang paling berat saat mengikuti les beliau adalah saat semester 3. Pada saat  itu kuliah tambahan kami di kampus sudah berakhir. Program tersebut memang hanya dikhususkan untuk semester 1 dan 2 saja. Automatically, pelajaran dari Mr. Charlie pun harus berakhir padahal materi-materi bahasa inggris kami rasanya belum cukup. Mr. Charlie pun  menyadari hal tersebut dan mengambil inisiatif untuk mengajar les di rumah beliau atau lebih tepatnya di rumah tantenya. Kami beberapa anak bimbingannya pun setuju. Saya ingat teman-teman saya saat itu adalah Mis Ika, Mis Yuli, Mis Nancy, Mr. Mail, Mr. Ilo, Mr. Aji, and teh ninih. Rumah tantenya berada di kompleks perumahan yang tidak ada jalur angkot menuju kesana. Jadi kami harus naik becak atau kadang-kadang naik taksi kesana.

Masalah kedua adalah mencari waktu belajar. Kami semua adalah mahasiswa yang berasal dari fakultas, jurusan, dan ruangan yang berbeda-beda. Alhasil, kuliah kami ada yang masuk pagi. Masuk siang dan sore. Saya pada saat itu kebetulan kuliah siang sampai sore. Teman-teman yang lain kebanyakan kuliah pagi. Mr. Charlie selaku pengajar kami pun pada saat itu masih kuliah. Mr. Charlie kesulitan memutuskan waktu yang tepat. Akhirnya setelah melalui banyak pertimbangan, beliau memutuskan kursus diadakan pada malam  hari yaitu pukul 19.00 malam sampai pukul 05.00 subuh. Awalnya, kami terkhusus saya merasa berat dan sempat menolak. Kalau malam hari belajar dan besoknya kuliah, kapan waktunya tidur?. Bisa-bisa saya anemia karena kurang tidur. Tapi setelah memikirkan kesempatan emas yang ditawarkan, kapan dan dimana lagi saya bisa mendapatkan pengajaran intensif seperti ini dengan biaya yang terjangkau?. Apalagi sebagai mahasiswa baru jurusan bahasa inggris, saya merasa masih sangat asing dengan bahasa tersebut. Kalau masalah kurang tidur, anggap saja sebagai pengorbanan untuk sang ilmu. Cieeeh. Sebenarnya saya masih bisa menyiasatinya. Saya kuliah pukul 1 di siang hari. Belajar kursus sampai jam 5 pagi. Sampai di kosan pagi hari setengah tujuh, jadi saya masih punya waktu tidur dari jam tujuh sampai jam 11 siang. Tidak masalah, apalagi kursus hanya 3 kali dalam seminggu. Finally, saya dan teman-teman yang saya sebutkan di atas pun setuju dengan kesepakatan kursus ini.

Kursus tersebut berat tapi sangat meyenangkan. Sangat berkesan bagi saya. Jam-jam 7 malam sampai pukul 10 malam biasanya otak dan mata masih bisa kompromi mengikuti materi. Tapi, setelah jam itu, mata saya biasanya sudah setengah tertutup. Belum lagi otak sudah capek. Tapi menurut info beberapa orang, malam adalah waktu yang sangat memungkinan ilmu menyerap dalam otak, mungkin karena suasana yang tenang dan cuaca malam yang sejuk, tapi apapun itu saya malah sering ketiduran, untunglah Mr. Charlie sering melontarkan lelucon, atau bahkan mengadakan game saat kami mulai mengantuk. Keadaan ini berlangsung beberapa bulan. Di saat kursus tersebut mulai akan memasuki program TOEFL, saya menyerah. Beberapa teman yang lain pun menyerah. Faktor utama tentu saja masalah waktu. Tugas kuliah semakin banyak dan sering sakit-sakitan membuat saya mulai kacau. Akhirnya saya tidak ikut lagi program tersebut. Padahal mimpi To be Master of English masih panjang.

Namun. saya pun pelan-pelan mulai merasakan buah perjuangan kursus dan keikhlasan hati pengajar saya saat ini. Saat saya mulai mengajarkan ilmu yang beliau ajarkan. Tentang bagaimana tulusnya hati beliau membagi ilmunya dan bagaimana beliau memperlakukan kami seperti adik-adiknya. Saya pun ingin sepertinya, menyayangi dan mencintai murid-murid saya agar suatu hari nanti seorang dari mereka,beberapa orang, atau bahkan semuanya terus mengingat saya dan selalu berdoa untuk kebaikan saya di dunia dan di akhirat. Amien.

For Mr. Charlie wherever you are,….
Hopefully, Allah will always bless you