aku baru nyadar, sudah 2 jam aku berdiri di depan kaca lemari ini, entah apa yang sedang aku lakukan. Berbicara sendiri seolah-olah orang gila. Aku sebenarnya sedang membayangkan diriku berdiri di depan kelas, karena besok adalah hari pertama aku praktik mengajar di lapangan, mungkin di tengah murid-murid yang bandel dan tak berperasaan. Kubayangkan wajah-wajah sinis mereka saat pertama kulangkahkan kakiku di ruang kelas, kubayangkan saat aku sedang menerangkan pelajaran, mereka ribut sendiri mengabaikanku, menganggap aku tak ada, bahkan yang lebih parah membayangkan mereka terbahahak-bahak saat tak bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan yang mereka lontarkan padaku, Dan… itu adalah kemungkinan2 terburuk yang sangat bisa terjadi.
Dan esoknya….
Untunglah, aku dapat pembagian kelas putri, jadi tidak terlalu repot mengatasi ulah mereka, hanya butuh sedikit trik2 meredakan mereka yang cerewat, tidak mau diam. Tapi bagaimana dengan teman-teman yang dapat tugas mengajar di kelas putra. Kwodong… Sempat kulirik, mereka kewalahan mengatasi anak-anak yang ribut minta ampun, tidak mau tenang di tempat duduknya, berkelahi dengan teman sebangkunya, berkeliaran di luar kelas dan lain-lain, intinya kehadiran teman-temanku di ruangan mereka tak dianggap samasekali.
2 bulan berlalu...
Akhirnya kusadari, Menjadi guru itu tidak gampang. Orang tidak hanya harus smart, tapi juga mesti punya kepribadian dan mau menjadi guru yang baik yang dapat dicontoh oleh anak didiknya.Guru adalah public figure buat siswa-siswinya, yang mana, apa yang mereka lihat, apa yang mereka dengar dari guru mereka itulah yang akan melekat dalam diri anak dan berlaku sepanjang hidup sang anak. Hmmm… kayaknya masih perlu banyak belajar nih buat jadi teacher???