Dalam
hidup setiap orang, biasanya mereka selalu punya beberapa orang yang
berpengaruh dalam hidupnya. Orang-orang yang telah menginspirasi, orang yang
menularkan banyak pengetahuan, orang yang memberi motivasi adalah mereka yang biasanya tak
dapat terlupakan dan selalu membuat kita terus mengenangnya bahkan berhutang
budi padanya. Inilah yang terjadi pada saya untuk Mr. Charlie. Secara tidak
sadar dia adalah salah satu orang yang
membuat saya melihat sisi dunia lain dari kehidupan. Walaupun kehidupannya dan
prinsipnya sangat bertolak belakang dengan apa yang pernah saya lihat dan
jalani sebelumnya, tapi saya melihatnya menjalani hidup, menghargai hidup dan
memperlakukan hidup dengan caranya sendiri.
Saya bertemu beliau
pertama kali saat mengikuti pelajaran tambahan pada awal saya masuk kuliah. Ada
3 mata kuliah tambahan pada saat itu, yaitu bahasa Arab, Bahasa Inggris, dan
retorika. Dia merupakan instruktur bahasa Inggris kami. Dia tentu saja
mempunyai nama lengkap. Tapi beliau lebih senang dipanggil Mr. Charlie
Pengetahuan bahasa
inggrisnya begitu dalam. Sebenarnya bukan
hanya ilmunya yang membuat saya terkesan, tapi caranya mentransfer ilmu
dan usahanya yang keras untuk mencerdaskan kami membuat saya kagum. Padahal
kami tidak membayar banyak untuk itu, tidak sebanding dengan perjuangannya
dalam mencerdaskan kami.
Dia tidak shalat juga
tidak ke gereja. Entah apa agamanya, kami studentnya pernah menanyakan tapi
katanya, dia belum percaya dengan tuhan. Whatever… kami hanya tahu kalau dia
sangat bertanggung jawab dalam pekerjaanya, care dan tulus dalam mengajar kami.
Pernah suatu ketika dia
marah besar pada kami. Mungkin kecewa atau mungkin kesal karena kami para anak
bimbingannya tidak datang mengikuti pelajarannya. Saya akui hari itu saya tidak
hadir karena hujan, padahal seharusnya itu tidak menjadi alasan, karena beliau
pun datang ke kampus untuk mengajar les dengan keadaan berhujan-hujan. Beliau
marah pada kami dan menunda pertemuan selanjutnya. Saya menyesal dan merasa
bersalah pada saat itu.
Yang paling berat saat
mengikuti les beliau adalah saat semester 3. Pada saat itu kuliah tambahan kami di kampus sudah
berakhir. Program tersebut memang hanya dikhususkan untuk semester 1 dan 2
saja. Automatically, pelajaran dari Mr. Charlie pun harus berakhir padahal
materi-materi bahasa inggris kami rasanya belum cukup. Mr. Charlie pun menyadari hal tersebut dan mengambil
inisiatif untuk mengajar les di rumah beliau atau lebih tepatnya di rumah
tantenya. Kami beberapa anak bimbingannya pun setuju. Saya ingat teman-teman
saya saat itu adalah Mis Ika, Mis Yuli, Mis Nancy, Mr. Mail, Mr. Ilo, Mr. Aji,
and teh ninih. Rumah tantenya berada di kompleks perumahan yang tidak ada jalur
angkot menuju kesana. Jadi kami harus naik becak atau kadang-kadang naik taksi
kesana.
Masalah kedua adalah
mencari waktu belajar. Kami semua adalah mahasiswa yang berasal dari fakultas,
jurusan, dan ruangan yang berbeda-beda. Alhasil, kuliah kami ada yang masuk
pagi. Masuk siang dan sore. Saya pada saat itu kebetulan kuliah siang sampai
sore. Teman-teman yang lain kebanyakan kuliah pagi. Mr. Charlie selaku pengajar
kami pun pada saat itu masih kuliah. Mr. Charlie kesulitan memutuskan waktu
yang tepat. Akhirnya setelah melalui banyak pertimbangan, beliau memutuskan
kursus diadakan pada malam hari yaitu
pukul 19.00 malam sampai pukul 05.00 subuh. Awalnya, kami terkhusus saya merasa
berat dan sempat menolak. Kalau malam hari belajar dan besoknya kuliah, kapan
waktunya tidur?. Bisa-bisa saya anemia karena kurang tidur. Tapi setelah
memikirkan kesempatan emas yang ditawarkan, kapan dan dimana lagi saya bisa
mendapatkan pengajaran intensif seperti ini dengan biaya yang terjangkau?.
Apalagi sebagai mahasiswa baru jurusan bahasa inggris, saya merasa masih sangat
asing dengan bahasa tersebut. Kalau masalah kurang tidur, anggap saja sebagai
pengorbanan untuk sang ilmu. Cieeeh. Sebenarnya saya masih bisa menyiasatinya.
Saya kuliah pukul 1 di siang hari. Belajar kursus sampai jam 5 pagi. Sampai di
kosan pagi hari setengah tujuh, jadi saya masih punya waktu tidur dari jam
tujuh sampai jam 11 siang. Tidak masalah, apalagi kursus hanya 3 kali dalam
seminggu. Finally, saya dan teman-teman yang saya sebutkan di atas pun setuju
dengan kesepakatan kursus ini.
Kursus tersebut berat
tapi sangat meyenangkan. Sangat berkesan bagi saya. Jam-jam 7 malam sampai
pukul 10 malam biasanya otak dan mata masih bisa kompromi mengikuti materi.
Tapi, setelah jam itu, mata saya biasanya sudah setengah tertutup. Belum lagi
otak sudah capek. Tapi menurut info beberapa orang, malam adalah waktu yang
sangat memungkinan ilmu menyerap dalam otak, mungkin karena suasana yang tenang
dan cuaca malam yang sejuk, tapi apapun itu saya malah sering ketiduran,
untunglah Mr. Charlie sering melontarkan lelucon, atau bahkan mengadakan game
saat kami mulai mengantuk. Keadaan ini berlangsung beberapa bulan. Di saat
kursus tersebut mulai akan memasuki program TOEFL, saya menyerah. Beberapa
teman yang lain pun menyerah. Faktor utama tentu saja masalah waktu. Tugas
kuliah semakin banyak dan sering sakit-sakitan membuat saya mulai kacau.
Akhirnya saya tidak ikut lagi program tersebut. Padahal mimpi To be Master of English masih panjang.
Namun. saya pun
pelan-pelan mulai merasakan buah perjuangan kursus dan keikhlasan hati pengajar
saya saat ini. Saat saya mulai mengajarkan ilmu yang beliau ajarkan. Tentang
bagaimana tulusnya hati beliau membagi ilmunya dan bagaimana beliau
memperlakukan kami seperti adik-adiknya. Saya pun ingin sepertinya, menyayangi
dan mencintai murid-murid saya agar suatu hari nanti seorang dari
mereka,beberapa orang, atau bahkan semuanya terus mengingat saya dan selalu
berdoa untuk kebaikan saya di dunia dan di akhirat. Amien.
For Mr. Charlie
wherever you are,….
Hopefully, Allah will
always bless you
.jpg)